KETIKA IA MEMPERCAYAIKU?

KETIKA IA MEMPERCAYAIKU.....
Hampir enam bulan kita bersama di Universitas kehidupan nan tercintaku Ahmad Dahlan Yogyakarta dan komunitas debatlah yang membuatku harus mengenalnya lebih jauh, lebih dalam. Dia adalah seorang pria pada umumnya, dingin, cuek, pintar dan sedikit pendiam. Itu pemikiranku diawal pertemuan kita. Jujur, aku tidak memiliki rasa spesial padanya tetapi ada hal yang membuatku ingin lebih mengenalnya, sedikit mengenal kepribadiannya. Hingga pada akhirnya keinginan itu menemukan titik terang, ya komunitas debat telah menjadi titk terang untuk mewujudkan keinginan itu. Apakah aku bahagia? tidak, tidak sama sekali, karena pada dasarnya aku tidak menyukainya hanya saja ada suatu hal yang menarik dirinya. Tepatnya adalah kemiripan antara aku dan dia yang membuatku semakin ingin lebih dekat dengannya. Mungkin itu adalah alasan terkonyol, tapi itu tidaklah penting karena keinginan itu telah mengalahkan kerasionalitasan diriku.
Tampaknya keinginan itu tidak hanya menemukan titik terang tetapi lebih dari itu, kita disandingkan dalam satu partner untuk ajang perlombaan debat. Aku semakin harus mengenalnya ketika ternyata banyak kemiripan diantara kita, jujur aku tidak bahagia, sama sekali tidak. Hanya saja aku harus memenuhi gejolak rasa ingin tahu yang begitu dahsyatnya tentang dia, aku tidak ingin menjadi wanita yang kejam atas diriku, hahahhaa.
" DON'T JUDGE A BOOK FROM THE COVER" sepertinya itu adalah idioms yang tepat untuk mengklarifikasi pemikiran awalku tentangnya, ternyata dia bukanlah pria pendiam tetapi dia sosok pria yang sangat asyik dan seru untuk diajak berdiskusi mengenai apapun. Saya berfikir bahwa diawal pertemuan kita dia hanya jaga IMAGE saja.
Jujur bahwa kita semakin dekat dan sering melakukan aktifitas berdua, eitss bersama deh. Maaf kita bukan Mahram ya, hahahhaaa. Kita sering berdiskusi tentang berbagi hal, tentang kehidupan.
Banyak hal positif yang aku dapatkan dari dia, sungguh aku beruntung telah mengenalnya. Aku menganggapnya bukan hanya sebagai partner debat tetapi lebih dari itu, partner dalam hal apapun dan aku tidak perlu pengakuan dari dia, apakah dia menganggap aku sebagai partnernya. I think It's not important. Hahahha, inilah aku yang suka melakukan sesuatu sekehendak hatiku, tak mengapalah jika masih pada jalan yang benar, iya kan Ya Rabb?
Hinga pada suatu hari ada yang berbeda darinya, Jumat malam adalah hari terakhir aku melihatnya. Tunggu! jangan negative thinking dulu ya, always be POSITIVE THINKING ya.
Tetapi pernyataan di atas adalah benar adanya tanpa memanipulasi sedikitpun, jumat malam adalah hari terakhir aku melihatnya di Fakultas Fisipol UGM hahahaaa bingung ya, tadi di atas katanya kuliah di Ahmad Dahlan Yogyakarta tapi kenapa ini di Fisipol UGM? please, jangan suudzon ya!
Aku jelasin deh, aku tetaplah Mahasiswa biasa dari Universitas yang beralmamater orange ini, hanya saja kami komunitas debat kadang mengadakan latihan debat di Fisipol UGM. Bagaimana? sudah jelaskan.
O.K kembali pada pokok permasalahan mengenai Jumat malam itu. Sebenarnya cukup 2 hari saja kita tidak bertemu karena sabtunya adalah hari tenang menjelang UAS dan minggunya memang hari libur nasional kan? tetapi ternyata dari awal UAS hingga mendekati hari terakhir UAS aku tidak melihatnya. Aku tetap berfikiran positif, mungkin karena kelas yang terpisah dan waktu singkat selama UAS menjadi alasan kita tidak bisa bertemu. Hingga pada puncaknya, aku menunggunya dan berharap bertemu dengannya, ini bukan kerinduan ya.....please, kita tidak punya hubungan spesial, always POSITIVE thinking ya.
Tetapi ternyata ZERO, aku tidak kunjung melihatnya dan rasa ingin tahu yang semakin akut ini harus segera dipenuhi. Fix aku menyerah dan dengan keberanian aku menanyakan kabarnya kepada teman sekelasnya dan kamu tahu apa jawabannya? jawabannya membuatku ingin segera mengetahui
kondisinya. Ternyata dia tidak berangkat sejak awal UAS hingga detik ini, Segera aku menanyakan kondisinya melalui media sosial, WA tidak dibalas, berusaha tetap bersabar, tetapi tidak kunjung dibalas juga dan akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya. Ya, aku menelfonnya dan dari suaranya ada sedikit kehawatiran difikiran ini mengenai keadaannya dan dia sepertinya enggan untuk berbicara, ya mungkin rata-rata pria seperti itu berusaha kuat dalam menghadapi segala persoalan dan bercerita kepada seseorang mungkin bisa membuat harga dirinya turun, hah...entahlah. Aku tidak mengerti.
Hasil dari percakapannya adalah dia akan mengatakannya di WA, Ya Allah, ada apa dengannya?
baik, dia juga tak kunjung memulai pembicaraan di WA dan lagi-lagi aku mengalah, aku yang memulainya. Awalnya dia enggan dan itu bukan aku jika hanya berhenti tanpa mendapat kejelasan yang pasti, jahatnya diriku tetapi I DON'T CARE about it, this is me. Aku terus mendesak dengan berbagai jurus-jurus jitu ala diriku dan pada puncaknya dia mengatakan dia ingin bertemu denganku pada pukul 14.00 siang di beskem debat tercinta. Wah! ada apa ya? mungkinkah, dia ingin.......tidak, tidak. Cukup! ini bukan saatnya untuk mengkhayal, berhenti Wahai diri.
Aku mengiyakan dan terjadilah pertemuan yang tidak bisa dikatakan singkat itu.
Pertemuan itu menjadikanku semakin paham tentang apa yang telah ia alami, maafkan aku ya....yang baru menyadari tentang permasalahan mu ini. Dia menceritakan tentang apa yang telah terjadi, aku membiarkannya untuk berbicara sepuasnya biarlah semuanya mengalir dan harapanku ada sedikit kelegaan dari permasalahan yang hampir seminggu ia pendam atau bahkan permasalahan yang telah lama ia pendam. Entahlah, aku hanya bisa menjadi pendengar karena aku tahu bahwa itulah yang ia butuhkan, seorang pendengar.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.....ya suara Adzan itu menjadi akhir dari pembicaraan itu dan dengan berakhirnya pembicaran maka berakhir pula pertemuan.
Tetapi akhir pertemuan tidak menjadikan putusnya pembicaraan, dering ponselku berbunyi dan ternyata itu pesan darinya, singkat dan bermakna " Arigatou" artinya Terima Kasih. Bagiku itu bermakna, terserah menurut kalian, hahahhha.
Saat ini aku tengah menyimpan rahasia nya dan aku adalah orang yang baru mengetahui rahasia itu. Ada rasa kebahagiaan tetapi Rasa takut lebih mendominasi saat ini. Kenapa ia mempercayaiku?
Dan pertanyaan beserta rasa takutku itu menjadi pembicaraan yang romantis antara aku dan Rabbku. Sungguh, saat-saat berdua dengannya jauh lebih indah dari apapun.
Akhirnya, semuanya aku serahkan kepadaNya yang kucinta. Biarlah ini menjadi rahasia antara aku dan Rabbku atas rahasiamu.
Semoga diri ini bisa amanah untuk menjaga rahasia itu. Terima kasih telah mempercayaiku, tapi kuharap jangan begitu mempercayaiku, karena aku hanyalah manusia yang terkadang hatinya dapat dibolak-balikan olehNya.
By: @Nila Purba
follow my instagram ya @nilapurba.
Comments
Post a Comment